adalah perkumpulan yang mempertemukan alumni Pondok Pesantren Cipasung dari segala kalangan pendidikan, profesi, strata sosial, dan ekonomi serta tidak dibatasi oleh angkatan alumnus.

SELAMAT DATANG DI MEDIA TI “KOMUNITAS ALUMNI CIPASUNG”

KAC atau Komunitas Alumni Cipasung adalah perkumpulan yang mempertemukan alumni pondok pesantren Cipasung dari segala kalangan pendidikan, profesi, strata sosial dan ekonomi. KAC dibangun sebagai wahana untuk membangun silaturahmi yang tidak dibatasi oleh angkatan alumnus.

Ketua Umum KAC

H.Adjat Sudradjat,SH,MH 25 Oktober 2012 dilantik sebagai Jaksa Agung Muda ( JAM) Intelijen Kejaksaan Agung RI.

Haol Abah Ruchyat yang ke 35 dan Haol Apih Ilyas Ruchyat ke 5

Digelar 2 Nopember 2012, acara terasa lebih semarak dengan kehadiran tiga “ Pendekar” yang kini tengahmalang melintang di Pemerintahan yakni Ketua Mahkamah KonstitusiMoh.Mahfud MD, Ahmad Heryawan yang Gubernur Jawa Barat serta H.Ajat Sudrajat yang baru dilantik pada hari Kamis 25 Oktober 2012 sebagai Jaksa Agung Muda Intelejen ( Jamintel ).

Reuni Akbar 2008

Alumni Cipasung semua angkatan hadir dalam acara Reuni Akbar tahun 2008.

Silaturahmi dengan Gubernur Jabar

Hari minggu tanggal 23 Desember 2012 pukul 06.00 waktu bandung, di kediaman Gubernur Jawa Barat Gedung Pakuwon Jl Otto Iskandar Dinata No. 1 Bandung, sekjen KAC memenuhi undangan Kang Aher

Sabtu, 15 Desember 2012

BANYOLAN KETUM KAC SAAT PINDAH KE RUMAH DINAS

Suasana di ruang ‘ redaksi’ Majalah KAC di Palmerah barat, masih diliputi kesibukan lantaran printer untuk mencetak ‘dummi’ majalah tengah ‘ngadat’ .  Semmy Monthy yang dianggap ‘ ekspert’ dibidang IT tampak lesu.Berbagai jurus yang dipelajarinya ternyata tak mampu menaklukan sang printer. Dalam kekalutan tadi, Ida , alumni SMA Cipasung angkatan 79 yang tengah bertandang, mendapat telpon dari isteri Ketum KAC yang isinya mengundang semua alumni yang ada di rumah H. Zakaria, karena Ketum KAC ternyata akan pindahan rumah dari Jatinegara Baru ke Komplek Pati Kejagung , Lebak bulus. Setelah maghrib rombongan ‘Redaksi’ Majalah KAC berangkat ke alamat yang disebutkan tadi. Karena acaranya dimulai sehabis Maghrib,tentu saja ketika kami datang , acara sudah selesai dan hanya kebagian acara santap malam saja. Namun kekecewaan ‘Redaksi’ ternyata terobati ketika dalam acara santai , suasana keakraban mulai terasa malah gelak tawa terus membahana diruang keluarga Ketum KAC. “ Ada sebuah cerita “  tuan rumah langsung membuka penghangat suasana. Diceritakan oleh Ketum KAC, adalah sepasang suami isteri yang tengah berkunjung ke Tapos . Ketika dibawa melihat-lihat sapi unggulan oleh seorang dokter hewan sang dokter memperlihatkan keunggulan sapi di kandang no I.” Sapi ini kawin sehari sekali “ tutur sang dokter hewan. Sang  isteri langsung menyikut suaminya “ Tuh pak , sehari sekali dia kawin “ bisik isterinya , sang suami diam tak bersuara lantaran merasa ia kurang ‘ menyentuh’ isterinya bahkan sekali dalam seminggu pun tidak. Selanjutnya pasutri itu dibawa kekandang nomer II. “ Kalau sapi yang ini, sehari bisa kawin duakali “ tutur sang dokter hewan. Kembali sang isteri menyikut suaminya “ Tuh pa ,duakali sehari “ katanya. Kembali sang suami tertunduk lesu. Puncaknya, ketika dibawa ke kandang selanjutnya dan diceritakan kehebatan sapi unggulan yang bisa kawin sampai tigakali sehari, sang isteri menyikut suaminya lebih keras “ tiga kali tuh paaaaaa,tiga kaliiiii “ katanya tak lagi berbisik. Sang suami yang sudah kesal langsung bertanya pada dokter hewan tadi. “ Pa dokter, sapi-sapi yang hebat tadi,kawinnya Cuma pada satu betina saja ? “ kata sang suami yang langsung dijawab oleh dokter hewan tadi “ tentu saja tidak, sapi itu kawin dengan tiga sapi betina yang berbeda “ jawab dokter hewan. Sang suami langsung menyikut isterinya dan berkata dengan tegas “ Tuh maaaah, kawinnya sama tiga sapi betina yng berbeda, tigaaaaa  mah...bukan satu !!! “ sang isteri langsung merengut , diam  kemudian langsung hengkang meninggalkan sang suami dan dokter hewan sambil bersungut-sungut ! Itulah cerita Katum KAC pada malam pindah rumah. Cerita lainnya kita tunggu saja ya !!!!   (HRZ)

SEKJEN KAC MIKIR BERAT MAU BIKIN MAJALAH KAC

Awal desember 2012 ini terlihat sekjen KAC sepulangnya dari acara Haol Abah ke 35 dan Apih ke 5, uring-uringan mikirin bagaimana caranya mau bikin majalah KAC, kang Dede seorang jurnalis senior dari Cianjur yang juga alumni SMA angkatan 1973, memberikan dorongan semangat dan bersedia membidani lahirnya majalah KAC bukan membidani tapi menghamilkan juga karna bagaimana mungkin bisa lahir kalau tidak hamil, akhirnya setelah uring-uringan hampir seminggu kang dede datang ke jakarta ke markas KAC di Palmerah, maka dengan gerak cepat serta keahliannya maka hamil dan lahirlah majalah KAC.... senaaaaaaaaaaaaang betul

BUKA BERSAMA KAC DI KEDIAMAN SEKJEN

18 Ramadhan 1433H, KAC mengadakan acara Buka Bersama diselenggarakan di kediaman sekjen KAC  Jl. Bahagia Palmerah Barat no. 4 Jakarta Barat sekaligus santunan anak yatim, bertindak sebagai penceramah KH. Ahmad Ruhiat pimpinan pondok pesantren Attarbiyah Karawang juga alumni SMA angkatan 1999, hadir beberapa alumni sekitar jakarta, depok, bekasi, bogor, tangerang, dalam acara tersebut juga sekalian syukuran atas keberangkatan sekjen KAC ke Tanah suci untuk melakukan ibadah umrah akhir Ramadhan dan kembali tanggal 4 Syawal, hadir pula bapak H. Fatahillah SH, MH Ketum Majlis Ta'lim Almuhajirin yang juga Wakil Walikota Jakarta Pusat

HAOL ABAH KE 35 & APIH KE 5

Ada yang istimewa pada acara Haol Abah Ruchyat yang ke 35 dan Haol Apih Ilyas Ruchyat tanggal 2 Nopember 2012 lalu.Keistimewaan tersebut bukanlah pada acaranya yang lebih “ Wah “ dibanding tahun-tahun sebelumnya. Acara Haol tahun 2012 terasa lebih semarak dengan kehadiran tiga “ Pendekar” yang kini tengah malang melintang  di Pemerintahan yakni Ketua Mahkamah Konstitusi Moh.Mahfud MD, Ahmad Heryawan yang Gubernur Jawa Barat serta H.Ajat Sudrajat yang baru dilantik pada hari Kamis 25 Oktober 2012 sebagai Jaksa Agung Muda Intelejen ( Jamintel ). Adalah hal yang biasa, bila acara Haol Abah Ruchyat dan Apih Ilyas Ruchyat di hadiri para pejabat tinggi pemerintahan, namun kali ini , ketiga pejabat Negara yang hadir tersebut ternyata semuanya mengaku jebolan pesantren. Bagi para santri maupun ‘ eks santri ‘ pengakuan ketiga orang pejabat tinggi tadi bagaikan pupuk yang menabur tanaman, ‘ esprit de corps’ sebagai santri seakan mengembang dan melambungkan kebanggaan yang ada dalam dada setiap santri. Betapa tidak , horeng simanahoreng ‘ santri juga bisa mencapai kedudukan tinggi dalam jabatan pemerintahan. “ Saya dulu jadi santri di pesantren al- Mardhiyyah , Pamekasan , Madura sana “ aku Mahfud MD ketika memberikan sambutan pada acara Haol Abah Ruchyat ke 35 dan Apih Ilyas Ruchyat ke 5 . Katanya, sama sekali tak terlintas dibenak beliau kalau satu saat nanti bakal menjadi seorang pejabat Negara apalagi sampai duduk sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi. Pria kelahiran 13 Juni 1957 di Sampang, Madura ini mengaku yang dicita-citakannya waktu itu, hanya ingin bisa melanjutkan sekolah sampai lulus dari perguruan tinggi. Tapi ternyata tulisan perjalanan nasibnya memang tidak ia duga sebelumnya .Mahfud MD memulai karier sebagai dosen di almamaternya, Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, pada tahun 1984 dengan status sebagai Pegawai Negeri Sipil. Pada 1986-1988, Mahfud dipercaya memangku jabatan Sekretaris Jurusan Hukum Tata Negara FH UII, dan berlanjut dilantik menjadi Pembantu Dekan II Fakultas Hukum UII dari 1988 hingga 1990.
Pada tahun 1993, gelar Doktor telah diraihnya dari Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Berikutnya, jabatan sebagai Direktur Karyasiswa UII dijalani dari 1991 sampai dengan 1993. Pada 1994, UII memilihnya sebagai Pembantu Rektor I untuk masa jabatan 1994-1998. Di tahun 1997-1999, Mahfud tercatat sebagai Anggota Panelis Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. Mahfud sempat juga menjabat sebagai Direktur Pascasarjana UII pada 1998-2001.
Dalam rentang waktu yang sama yakni 1998-1999 Mahfud juga menjabat sebagai Asesor pada Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. Puncaknya, Mahfud MD dikukuhkan sebagai Guru Besar atau Profesor bidang Politik Hukum pada tahun 2000, dalam usia masih relatif muda yakni 40 tahun.
Mahfud tercatat sebagai dosen tetap Fakultas Hukum UII pertama yang meraih derajat Doktor pada tahun 1993. Dia meloncat mendahului bekas dosen dan senior-seniornya di UII, bahkan tidak sedikit dari bekas dosen dan senior-seniornya yang kemudian menjadi mahasiswa atau dibimbingnya dalam menempuh pendidikan pascasarjana.
Karier Mahfud kian cemerlang, tidak saja dalam lingkup akademik tetapi masuk ke jajaran birokrasi eksekutif di level pusat ketika di tahun 1999-2000 didaulat menjadi Pelaksana Tugas Staf Ahli Menteri Negara Urusan HAM (Eselon I B). Berikutnya pada tahun 2000 diangkat pada jabatan Eselon I A sebagai Deputi Menteri Negara Urusan HAM, yang membidangi produk legislasi urusan HAM. Belum cukup sampai di situ, kariernya terus menanjak pada 2000-2001 saat mantan aktivis HMI ini dikukuhkan sebagai Menteri Pertahanan pada Kabinet Persatuan Nasional di era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Sebelumnya, Mahfud ditawari jabatan Jaksa Agung oleh Presiden Abdurrahman Wahid tetapi menolak karena merasa tidak memiliki kemampuan teknis.
Selain menjadi Menteri Pertahanan, Mahfud sempat pula merangkap sebagai Menteri Kehakiman dan HAM setelah Yusril Ihza Mahendra diberhentikan sebagai Menteri Kehakiman dan HAM oleh Presiden Gus Dur pada 8 Februari 2001. Meski diakui, Mahfud tidak pernah efektif menjadi Menteri Kehakiman karena diangkat pada 20 Juli 2001 dan Senin, 23 Juli, Gus Dur lengser. Sejak itu Mahfud menjadi Menteri Kehakiman dan HAM demisioner.
Mahfud MD terpilih menggantikan hakim Konstitusi Achmad Roestandi yang memasuki masa purna tugas. Selanjutnya, pada pemilihan Ketua Mahkamah Konstitusi, yang berlangsung terbuka di ruang sidang pleno Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Selasa 19 Agustus 2008, Mahfud MD terpilih menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2008-2011 menggantikan ketua sebelumnya,  Jimly Asshiddiqie. “ Saya bisa begini karena memang Negara kita telah merdeka “ tegasnya, karena menurutnya, kaum penjajah tak akan membiarkan bangsa kita untuk bisa maju oleh karenanya, menurutnya, sangatlah patut apabila kita mensyukuri makna kemerdekaan Negara kita ini. Sementara H.Ahmad Heryawan yang lahir di Sukabumi pada tanggal 19 Juli 1966 ,merupakan Gubernur Jawa Barat yang saat ini masih menjabat untuk periode 2008-2013 dan merupakan politikus dari Partai Keadilan Sejahtera. Dalam menjalankan tugasnya, ia ditemani oleh Dede Yusuf sebagai wakilnya. Sebelum menjabat sebagai gubernur Jawa Barat, ia menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Provinsi DKI Jakarta periode 2004-2009. Sebagai seorang pemimpin daerah, misi yang ia bawa adalah menciptakan masyarakat yang memiliki dasar pengetahuan (knowledge) untuk melahirkan dunia dengan wajah baru. Selain itu, Ahmad Heryawan juga memberikan prioritas pada pendidikan murah, sejuta lapangan kerja, kesehatan masyarakat, perbaikan ekonomi masyarakat, dan pembenahan infrastruktur di seluruh wilayah Jawa Barat. Selain menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat, ia merupakan Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Umat Islam (PUI) sejak tahun 2004 hingga sekarang. Ahmad Heryawan adalah politikus yang juga aktif sebagai pendakwah atau mubaligh. Sebelum terjun ke dunia politik, ia sempat aktif mengajar di beberapa perguruan tinggi, antara lain Ma'had Al Hikmah, Dirosah Isla miyyah Al Hikmah, Universitas Ibnu Khaldun Bogor, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Jakarta, dan Pusat Studi Islam Al Manar. Pada kesempatan yang sama, Kang Aher ( sebutan akrab Ahmad Heryawan ) menegaskan pentingnya pendidikan agama seperti yang diterapkan di Pesantren Cipasung, agar nilai-nilai Imtaq ( Iman dan Taqwa ) tidak dikalahkan oleh Iptek ( Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ). Kang Aher juga mensitir ungkapan mantan Presiden RI ke 3, BJ Habibie yang menyatakan apabila diperkenankan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk memilih , beliau ini akan lebih memilih punya rakyat yang kecil nilai IPteknya tapi besar nilai Imtaqnya. Itulah sebabnya kata kang Aher, ia sangat menaruh harapan besar kepada lembaga pendidikan Islam seperti yang diterapkan di Pesantren-pesantren. Dan yang terakhir yakni H.Ajat Sudrajat,SH,MH yang lahir pada 1955 di Cikawung-Ciparay, Bandung adalah santri ‘ pituin ‘ Cipasung. “ Saya juga tidak mengira kalau suatu saat nanti saya akan menjadi seperti ini “ akunya. Ajat Sudrajat yang saat ini menjabat sebagai Jaksa Agung Muda Intelejen di Kejaksaan Agung Republik Indonesia, sejak kecil sudah dipersiapkan ayahandanya  seorang tokoh Nahdlatul ‘Ulama di Ciparay, untuk suatu saat nanti bisa memimpin madrasah yang telah dibangun sejak lama di kampungnya di Cikawung-Ciparay ( sekarang Bale Endah ). Itulah sebabnya, tahun 1969 ‘kang Ajat ‘ ini sudah dikirim oleh orang tuanya ke pesantren Cipasung untuk melanjutkan sekolahnya di SMP Islam Cipasung sekalian ngaji kitab kuning. “ Saya mesantren di Cipasung sejak SMP terus melanjutkan ke SMA-I Cipasung selama tiga tahun , artinya empat tahun saya menimba ilmu di pesantren Cipasung,tapi entah bagaimana saya tetap saja tidak ‘ timu ‘ ilmu-ilmu agama tidak seperti teman-teman yang lainnya “ akunya. Tapi yang terpenting tegasnya, ruh pesantren telah membentuk jiwanya untuk lebih tegar dalam menjalani kehidupan nyata.” Saya kira, pelajaran Ta’lim Mutaallim sangat penting untuk dipelajari oleh seluruh masyarakat, agar dalam kehidupan kesehariannya masyarakat bisa bersikap lebih santun, lebih toleran dan saling menghargai “ tegasnya. Hal ia bisa tertarik untuk menjadi seorang Jaksa, diakuinya, hal tersebut berawal ketika ia kuliah di Fakultas Hukum Unpad, ia banyak bergaul dengan sesame teman kuliah yang kebetulan telah bekerja sebagai Jaksa. Karier di Kejaksaan dimulai sejak tahun 1988. Tahun 1996 menjabat sebagai Kajari Ketapang Kalimantan Barat, Tahun 1998 menjadi Kajari di Kabupaten Sumedang, kemudian menjadi Assisiten Pembinaan Kejati Riau tahun 2001 dan tahun 2001-2002 diangkat menjadi Sub Direktorat di Datun Kejagung. Jadi Assisten Intel pada Kejati Jabar tahun 2004-2005 selanjutnya menjadi Kasubdit Ekonomi Intel di Kejaksaan Agung pada tahun 2006. Pada tahun 2006 itu pula akunya ia menjadi Pengkaji/ Koordinator di Gedung Bunder. Tahun 2006-2007 menjadi Wakil Kajati Banten dan jadi Kajati di Banten. Tahun 2008-2009 menjadi Inspektur Tindak Pidana di Kejagung kemudian menjadi Kajati Sulsel pada tahun 2009. 2010 menjadi Inspektur Kepegawaian  di Kejagung selama tiga bulan dan menjadi Sekretaris Jampidum selama 7 bulan dan masuk Lemhanas selama 5 setengah bulan, pada tahun 2011 menjadi staf ahli Jaksa Agung bidang intelejen dan pada tanggal 25 Oktober 2012 dilantik menjadi Jaksa Agung Muda Intelejen.  ( dari berbagai sumber )


KETUM KAC DILANTIK SEBAGAI JAMINTEL KEJAGUNG RI

Berita menggembirakan bagi para alumni Cipasung ketika terbetik kabar bahwa pada tanggal 25 Oktober lalu, Ketua Umum Komunitas Alumni Cipasung ( KAC), H.Adjat Sudradjat, SH,MH dilantik sebagai Jaksa Agung Muda ( JAM) Intelijen Kejaksaan Agung RI. H.Adjat Sudradjat alumni SMA Cipasung angkatan tahun 1973.Pria kelahiran 1955 di desa Cikawung-Ciparay Bandung memulai kariernya tahun 1988 selepas menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Pajajaran Bandung . Ketika bincang-bincang dengan Majalah KAC, dengan sangat antusias " Kang Adjat " menceritakan pengalamannya ketika menjadi santri di Cipasung. " Saya di masukkan ke pesantren Cipasung untuk melanjutkan pelajaran saya di SMP Islam Cipasung " ungkapnya. Sudah menjadi semacam tradisi katanya, jika dikampungnya selepas lepas SD, anak-anak dimasukkan ke pesantren. " Maklum ayah saya termasuk tokoh N.U. dan punya hubungan akrab dengan Cipasung selain juga kebanyakan para ustad dan ajengan di kampung saya kebanyakan lulusan-lulusan dari pesantren Cipasung " kenangnya. Ihwal kiprahnya di Kejaksaan RI , tuturnya, mulai diangkat sebagai Kepala Kejaksaan RI di Ketapang Kalimantan Barat, setelah melalui berbagai liku perjalanan di lingkungan Kejaksaan mulai dari Aceh hingga Riau. Pada tahun 1998 lanjutnya, 'Kang Adjat' di alih tugaskan  menjadi kajari di Kabupaten Sumedang,kemudian menjadi Assisten Pembinaan Kejati Riau pada tahun 2001. Tak lama kemudian pada tahun 2001-2002 Sub.Direktorat di Datun Kejaksaan Agung RI. Tahun 2004-2005 menjadi Assisten intel Kejaksaan Tinggi Jawa Barat. Tahun 2006 di tugaskan sebagai Kasubdit Ekonomi Intel di Kejagung RI dan pada tahun itu pula akunya, ia menjadi Pengkaji/Koordinator di Gedung Bunder. Menjadi Wakil Kajati Banten seterusnya menjadi Kajati Banten pada tahun 2006-2007. Tahun 2008-2009 menjadi Inspektur Tindak Pidana di Kejagung lalu dilantik sebagai Kajati Sulsel pada tahun 2009. Setahun kemudian yakni pada tahun 2010 ditugaskan menjadi Inspektur Kepegawaian di Kejagung selama tiga bulan dan menjadi Sekretaris Jampidum selama 7 bulan untuk selanjutnya selama lima setengah bulan masuk Lemhanas. Tahun 2011 menjadi staff ahli bidang intelejen di Kejagung dan pada tanggal 25 Oktober 2012 dilantik sebagai Jaksa Agung Muda Intelejen Kejaksaan Agung RI.

Rapat redaksi Majalah KAC

Peserta rapat, 23 Nop 2012
Jalan Palmerah gang Bahagia, kediaman HR.Zakaria Yusuf, Pimpinan Umum Majalah KAC, sudah dua minggu ini tak pernah sepi kegiatan. Pasalnya, untuk mengejar ' Dead line' yang telah ditentukan yakni tanggal peluncuran partama majalah KAC pada awal bulan Januari 2013. Rengrengan  Redaksi yang datang dari berbagai daerah seakan tak mengenal lelah. Waktu sudah lagi tak terasa. Siang dan malam seakan sudah tak lagi ada bedanya. Ruangan tamu yang bergaya ' Timur tengah' langsung disulap menjadi ruang rapat. Dummy majalah baru selesai rencana cover majalah,sementara untuk isi masih banyak materi baik illustrasi foto maupun lay out desain serta materi berita lainnya. Berbagai kendala kerap terjadi terutama gangguan yang terjadi pada mesin printer. Tekad untuk mepersembahkan hasil karya terbaik bagi almamater yakni pesantren Cipasung seakan menjadi obat perangsang yang memotivasi personel redaksi untuk tetap bertahan walau penat,lelah serta kantuk terus menggelayut setiap pagi menjelang. Waktu tidur terpaksa berobah 180 derajat , bagaikan keturunan Pangeran Dracula dari Istana Transylvania, personel Redaksi tidur menjelang siang dan giat bekerja sampai larut malam bahkan sampai menjelang pagi. (jack),

Senin, 17 September 2012

Mengenal SMA Islam Cipasung

SMA Cipasung.
SMA Islam PondokPesantren Cipasung adalah termasuk sekolah tipe A, karena sekolah tersebut disamping berdirinya sudah empat puluh delapan tahun, juga sekolah yang terakreditasi nilai A sejajar dengan sekolah negeri, memiliki sarana prasaranayang lengkap, rombongan belajarnya mampu bersaing dengan sekolah-sekolahnegeri, program pengajarannya terdiri dari tiga program yaitu, program Bahasa,program Ilmu Pengetahuan Alam, dan program Ilmu Pengetahuan Sosial, nilairata-rata ujian nasional bisa bersaing dengan sekolah-sekolah lain yaitu 7.86,malahan untuk bahasa Asing menduduki nilai tertinggi se-Kabupaten.
Karena SMA Islam Pondok Pesantren Cipasung memiliki rombonganbelajar yang banyak, maka tenaga pengajarpun mendapat bantuan guru DPK (guru PNS yang diperbantukan di sekolah swasta) sebanyak 29 (dua puluh sembilanorang), 4 orang dari Departemen Agama, 25 orang dan Dinas Pendidikan.
Di samping memiliki laboratorium IPA, dan Komputer, juga memilikiMultimedia yang digunakan dalam proses pembelajaran terutama kaitannya denganpemahaman kebahasaan dalam listening/istima. Namun dalam penggunaan saranamultimedia tersebut tidak semua guru mampu mengoperasikan, maka kepala sekolahmengangkat seorang petugas yang secara khusus menangani sarana tersebut,sehingga proses pembelajaran mudah dicerna oleh peserta didik.
Sistem pembelajaran yang dilaksanakan di lingkungan Pondok PesantrenCipasung dapat dikategorikan baik, karena pendidikan yang dilaksanakan itubersifat non formal dan formal. Pendidikan non formal dilaksanakan mulai jam14.00 - jam 21.00, sedangkan pendidikan formal dilaksanakan jam 07.00 - 13.00sehingga orang menyebut "sekolah sambil ngaji".
Sistem tersebut adalah merupakan hal yang positif, dimana dalammenghadapi kehidupan sekarang ini banyak para orang tua yang khawatir terhadappergaulan anak-anaknya, sehingga walaupun jauh mereka memasukkan anaknya ke SMAIslam Pondok Pesantren Cipasung.
Dalam pelaksanaannya, antarasistem non formal dan sistem formal ada keterkaitan karena materi yangdiberikan di pesantren disesuaikan dengan kemampuan peserta didik dalam sistemformal, sehingga dapat menghasilkan sikap peserta didik memiliki sifat tadzimkepada guru.
Profil Sekolah :
Nomor Statistik Sekolah
30 2 02 12 24 002   NIS 300020
Nama Sekolah
SMA IslamCipasung
Alamat
Jalan  KH. Ruhiat Cipasung

Desa Cipakat

Kecamatan Singaparna

Kabupaten Tasikmalaya

Provinsi Jawa Barat

Kode Pos  46417

Telp   (0265) 545539
Sekolah dibuka tahun 
1959
Sekolah direnovasi       
1983
Status Sekolah                
Swasta
Klasifikasi Sekolah      
Mandiri
Waktu Penyelenggara          
Pagi
SK Terakhir Sekolah
No.420/599Dikmenti/2005-Prov.02/MA.182
SK Izin Pendirian Sekolah
1281/I.02.4/R.83
Nama Yayasan               
Pondok Pesantren Cipasung
Akte Pendirian
No. 11/21 Desember 1967
Kelompok Yayasan
LP Maarif

Sumber : http://www.smaicipasung.sch.id/

Kamis, 01 Maret 2012

Undangan pelantikan MPC KAC Ciamis

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Dengan ini kami mengundang segenap Alumni Cipasung wilayah Kabupaten Ciamis dan sekitarnya dan Pengurus MPC KAC Kabupaten/Kota Se Jawa barat untuk hadir dalam acara Pelantikan Pengurus MPC KAC Ciamis dan Banjar yang akan dilaksanakan pada :

Hari : Sabtu

Tanggal : 4 Maret 2012

Waktu : Pukul 20.00 s.d. selesai

Tempat : Ponpes Miftahul Ulum Bangunsirna, Jl. Citapen No.4

Keterangan alamat; dari alun-alun Ciamis arah ke Banjar Km.2 sebelah kiri dan belok kiri.

Kami mohon do’a dan restu semoga pelaksanaan acara tersebut mendapat kelancaran dan keberkahan.

Terima kasih atas perhatian dan kehadiran pada waktunya.

Salam KAC.


Jakarta, 1 Maret 2012

Ketum MPP KAC

ttd

H. Ajat Sudrajat, SH.,MH.

Senin, 27 Februari 2012

Cerita Yudha tentang K.H. Abdul Chobir

Di sela-sela penyelenggaraan Journalism Camp di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, saya dan Vian ditemani seorang kawan dari Cipasung, Fahmi, sempat bersilaturahmi ke KH Abdul Chobir. Beliau merupakan seorang alumni Salman ITB yang kini menjadi salah satu kiai di pesantren tersebut.

Siang itu, sekitar pukul 14 siang, kami menemui beliau di rumahnya yang terletak tepat di depan Masjid Cipasung. “Maaf, baru mengisi (memberikan ceramah) pengajian. Tidak menunggu lama, kan?” tanyanya ramah sambil menyalami kami satu per satu.

Pria kelahiran 27 Desember 1957 ini tampaknya memiliki kenangan yang manis dengan Masjid Salman ITB. Usai kami memperkenalkan diri, beliau langsung bercerita tentang Masjid Salman ITB di era 1977 hingga 1982, tepat ketika beliau masih berstatus mahasiswa jurusan Fisika ITB.

Mas Chobir mengaku banyak pengalaman penting yang beliau dapat semasa menjadi aktivis di Masjid Salman ITB. Salah satunya ketika Masjid Salman ITB kerap kali diundang untuk memberikan khutbah di masjid-masjid sekitar ITB. Waktu itu, beliau dan rekan-rekannya sesama aktivislah yang memenuhi undangan tersebut. “Padahal (waktu itu) cuman modal nekad,” kenang beliau.

Pada masanya, pria asal Tulungagung, Jawa Timur ini banyak disukai aktivis Masjid Salman ITB karena suara emasnya. Beliau kerap bertugas sebagai muadzin ketika waktu shalat tiba. Karena bacaan Alqurannya yang merdu, beliau juga sering disuruh mengimami shalat. Terlebih lagi ketika Ramadhan tiba. Tugas menjadi muadzin dan imam tetap tarawih Masjid Salman ITB pun kerap diamanahkan kepada beliau ketika itu.

Ketika ditanya alasan Mas Chobir aktif di Masjid Salman ITB ketika kuliah dulu, beliau hanya menjalankan amanah ayahya. “Di mana pun berada, harus dekat pesantren, kalau tidak (ada pesantren), harus dekat masjid,” ucap beliau menirukan pesan ayahnya.

Namun, Masjid Salman ITB di mata suami Neng Ida Nurhalida ini lebih dari menjalankan amanah orang tuanya. Di masjid kampus pertama di Indonesia ini, beliau merasa nyaman. “Ukhuwah (aktivis)-nya sangat kuat,” nilai Mas Chobir.

Ukhuwah yang kuat ini salah satunya tercermin bila ada salah seorang yang sakit. Mulai dari mengurus ketika sakit setiap harinya hingga meminta pengobatan gratis ke dokter, dilakukan bersama-sama.

Ketika Ramadhan tiba pun, Mas Chobir dan rekan-rekannya sesama aktivis kerap tidur di Masjid Salman ITB. Bila lapar melanda, biasanya mereka makan roti bakar dan bubur kacang ijo di bilangan Tamansari, dekat Kebun Binatang Bandung.

Meskipun begitu, Ketua Panitia Pelaksana Program Ramadhan (P3R) Masjid Salman ITB tahun 1978 ini tidak menapik sifat kebanyakan mahasiswa ITB yang individualis dan memiliki ego yang tinggi. Namun, keegoan ini bisa dicairkan dengan cara-cara yang informal, seperti berjalan kaki bersama-sama ke Curug Dago, Lembang, Ciwidey, hingga Situ Patenggang. “Kalau ingat itu (jalan-jalan bersama), jadi nostalgia yang indah,” kenang bapak 4 orang anak ini.

Salman Era Akhir 1970an

Mas Chobir mulai aktif di Masjid Salman ITB sejak terdaftar sebagai mahasiwa jurusan Fisika ITB pada 1977. Beliau ingat waktu itu Masjid Salman ITB selalu penuh sesak dengan jamaah ketika waktu shalat tiba.

Puncak jumlah jamaah di Masjid Salman ITB adalah pada bulan Ramadhan. “Suasana tarawih (di Masjid Salman ITB) sangat penuh. Telat sedikit saja, tidak akan dapat tempat (tarawih),” cerita Mas Chobir.

Masjid Salman ITB juga menjadi pusat belajar Alquran untuk mahasiswa dan masyarakat ketika itu. Karena sebagian besar masyarakat Indonesia termasuk Kaum Abangan, banyak dari mahasiswa ITB yang beragama Islam, tetapi belum bisa membaca Alquran. Sehingga Masjid Salman ITB kerap dibanjiri mahasiswa yang belajar membaca Iqra.

Semasa menjadi aktivis Masjid Salman ITB, Mas Chobir diamanahi mengurus kuliah dhuha setiap Sabtu pagi. Kala itu, pesertanya adalah mahasiswa dan jumlahnya bisa mencapai ribuan orang. Sejak saat itu, akhirnya dibuatlah Keluarga Remaja Islam Salman (Karisma) ITB. Ketika itu, mahasiswa yang ribuan orang jumlahnya, dikelompokkan menjadi kelompok-kelompok diskusi kecil.

Mas Chobir juga merintis Salman Komunikasi Aspirasi Umat (SKAU), sebuah buletin Islam yang diterbitkan untuk jamaah Salman ITB. Menurutnya, membuat media cetak saat itu tidak semudah saat ini. Dirinya dan teman-teman redaksi lainnya harus me-layout secara manual dengan dibantu printer elektrik. Untuk urusan mencetaknya pun masih terbilang mahal. Sehingga tak jarang para awak SKAU menjelajahi gang-gang Kota Bandung untuk mencari percetakan yang murah.

Usai diwisuda pada 1983, Mas Chobir sudah tidak lagi berkecimpung dalam aktivitas keagamaan di Masjid Salman ITB. Selain sibuk mengajar, Mas Chobir ketika itu sudah memiliki istri dan mengharuskannya tinggal di Cipasung, Tasikmalaya.

Alquran dan Ridho Orang Tua

Berbicara kehidupan, Mas Chobir mengaku tidak pernah punya rencana dalam hidupnya. “Semuanya mengalir, seperti filosofi Sunan Kalijaga,” paparnya. “Ikuti aliran air, tapi jangan sampai terbawa arusnya,” lanjut alumni magister Teknik Elektro ITB ini menjelaskan.

Meskipun mengikuti aliran air, tetapi jalan hidup beliau oleh rekan-rekan dan keluarganya dinilai baik. Mas Chobir memandang jalan hidupnya sebagai karunia dari Allah. “Kalau belajar, bisa sampai malam. Bukan karena terpaksa, tapi karena senang. Mungkin hal ini karunia dari Allah,” papar anak dari Abdul Adi ini menggambarkan filosofi hidupnya.

Selain berkesempatan berkuliah di ITB, hal istimewa lainnya dalam hidupnya adalah menikah dengan putri kiai Pesantren Cipasung, Tasikmalaya.

Mas Chobir sendiri dibesarkan di lingkungan pesantren di Tulungagung. Ayahnya merupakan salah satu kiai di pesantren tersebut. Karena dibesarkan sebagai seorang santri inilah, di dalam diri Mas Chobir ada keseganan untuk menikah dengan putri seorang kiai.

Namun, keseganan ini tidak terpatri di diri teman-teman kuliahnya di ITB. Sehingga ketika tim ITB menyelenggarakan program pemberdayaan masyarakat di Cipasung, beberapa rekannya menjodohkan Mas Chobir dengan putri kiai Cipasung, dan berhasil. Mas Chobir pun menikah pada 26 Maret 1983 malam, dua hari sebelum dia diwisuda. “Jadi dapet ijabsah dan ijasah,” candanya.

Hal yang kini dia raih bukanlah tanpa sebab. Ketika dirinya mencoba menelusuri jalan hidupnya, pendiri Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Cipasung ini menyimpulkan bahwa patuh kepada orang tua dan sering membaca Alquran adalah kunci kehidupannya kini.

Dalam Alquran, lanjut Mas Chobir, ada 3 rangkaian ayat Alquran yang harus dijalankan. Bila tidak dijalankan, tidak akan diterima oleh Allah kelak. Ketiga rangkaian itu adalah shalat dan zakat, mentaati Allah dan rasul-Nya, dan berbakti kepada orang tua.

Mas Chobir sendiri mengakui bahwa ibunya dia nilai sangat rajin beribadah. Selain puasa dan shalat, ibunya kerap membaca Alquran. Sehingga, ketika ibunya berdoa meminta kebaikan untuk anak-anaknya, mungkin hal inilah yang dikabulkan oleh Allah.

Selain doa dari orang tuanya, Mas Chobir juga menilai kebiasaannya membaca Alquran, membuat jalan hidupnya menjadi baik. Bila tidak ada kegiatan, dirinya lebih menyukai membaca Alquran. “Senang aja kalau membaca Alquran. Mungkin karunianya di situ,” simpul Mas Chobir.

Menjelang adzan Ashar, saya, Vian, dan Fahmi berpamitan untuk kembali ke lokasi Journalism Camp. Satu hal yang diwasiatkan oleh KH Abdul Chobir, bahwa tantangan berdakwah saat ini jauh lebih berat. Tontonan dari televisi sudah cukup banyak. Namun, dari internet juga ada banyak dampak negatif. “Harus diimbangi oleh umat Islam sendiri dengan menciptakan konten-konten yang positif,” pesannya singkat.

Yudha P. Sunandar

MAN Cipasung adalah salah satu MA Model di Jawa barat

Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Cipasung terletak di Kabupaten Tasikmalaya tepatnya berada di dalam komplek Pesantren Cipasung, Desa Cipakat Kecamatan Singaparna Tasikmalaya. Dengan posisinya yang berada dalam lingkungan pesantren besar tersebut, tentunya sangat menguntungkan sekali terutama karakteristik lingkungan yang baik yaitu lingkungan santri dari pesantren Cipasung itu sendiri.

MAN Cipasung, adalah salah satunya Madrasah Aliyah Model dari 4 Madrasah Aliyah Se-Jawa Barat yang telah mendapat kepercayaan menjadi MAN MODEL sesuai Surat Keputusan Direktur Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam No: E.IV/PP.00.6/KEP/17.A/98 Tentang Madrasah Aliyah Model. Dengan mendapat kepercayaan tersebut, tentunya MAN Cipasung memiliki berbagai keunggulan, baik dalam hal Fasilitas, Tenaga Pendidik, Prestasi maupun sesuatu hal yang berhubungan dengan program dan kurikulum di sekolah.

Dalam hal fasilitas, MAN Cipasung memiliki, Hot Spot Area, Lab.Fisika, Lab.Kimia, Lab.Biologi, Lab.Bahasa,Lab.Komputer, Perpustakaan, Aula, Ruang Multimedia, dan Sarana Olahraga. Sedangkan tenaga pendidiknya dalam rangka mendukung peningkatan kualitas pemberdayaan madrasah, sekolah ini memiliki tenaga pendidik SI, S2. Bahkan ada diantaranya guru MAN Cipasung yang telah mengikuti “Master Overseas Training Program di LA Trobe Universitas Mealborne Australia”, serta guru pendidik lainnya juga telah mengikuti Quantum Learning dan Quantum Teaching di Bandung, dalam upaya pengembangan kemampuan para pendidiknya.

Madrasah yang memiliki visi “Kader Umat yang berwawasan KeUnggulan,ke Tagwaan, dank e Masyarakatan (UTAMA)”, saat ini dipimpin oleh Drs. H.Badruzzaman, M.Pd selaku kepala sekolahnya. Saat di temui di sekolah yang didampingi beberapa wakaseknya mengatakan, sebagai Madrsah yang telah mendapat kepercayaan MAN Model, tentunya kami harus dapat memegang kepercayaan tersebut dengan selalu memberikan peningkatan kegiatan belajar dan mengajar sesuai standar yang telah diterafkan oleh pemerintah, dan Alhamdullilah hal itu kami buktikan dengan setiap tahunnya banyak siswa kami yang diterimah di perguruan tinggi negeri unggulan seperti di ITB, ITS, IPB, UIN, UPI, UNSOED, UNDIP, dan banyak lagi di perguruan tinggi lainnya, ungkapnya.

Drs. Maman Lukman, bagian pengembangan MAN Cipasung Tasikmalaya menambahkan, Sebagai Madrasah yang pernah meraih Juara Pertama Lomba Madrasah Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2005, tentunya kami harus selalu memberikan berbagai peningkatan pembelajaran setiap tahunnya. Saat ini kami juga telah memiliki beberapa program yaitu Program Keagamaan, Program Kekridaan, dan Program Karya Ilmia, Bakat dan Prestasi. Pada Program Keagamaan seperti program praktek keagamaan, (PPL), Ekskul Rohis san Seni Islami, Ekskul Tahfidzul Qur,an dan Kaligrafi dan program kelas khusus bahasa. Pada program kelas kusus bahasa yaitu kumpulan siswa siswi MAN Cipasung yang berada dalam satu kelas yang dinamakan kelas kusus Bahasa Arab dan Inggris. System pembelajarannya, berdasarkan tingkatan pembelajaran yang dimulai dari dasar dasar pembelajaran Bahasa Arab dan Inggris,yang dilaksanakan setiap hari Senen sampai Kamis setelah jam KBM selesai. Sedangkan program praktek keagamaan, kususnya para siswa kelas 12 (kelas 3) kami melaksanakan praktek kegiatan keagamaan dilapangan. Para siswa diwajibkan terjun kemasyarakat langsung seperti ke Masjid-masjid, Sekolah Taman kanak-kanak Alqur,an (PAUD) dll, selama satu bulan yang langsung dibimbing oleh guru pendamping. Hal ini akan sangat berguna bagi mereka setelah mereka keluar dari sekolah dan minimal mereka sudah terbiasa dalam masyarakat dalam hal keagamaan. Program Pengembangan Kekridaan seperti, Ekskul Pramuka, PMR, PKS, dan Paskibra. Sedangkan pada. Sedangkan pada Program Pengembangan Karya Ilmia, Bakat dan Prestasi adalah berbagai kegiatan Ekskul yang terdiri dari 13 mata Ekskul yang ada di MAN Cipasung.

Dalam hal Prestasi, MAN Cipasung, selain mendapat Juara I Lomba Madrasah Tingkat Nasional, juga pernah meraih Juara 1 Kejurnas BKC Tingkat Wil.Priangan Timur, Juara II Kaligrafi Se-Priatim 2010, Juara Program Pertukaran Pelajar Bina Antar Budaya ke USA selama 1 tahun, Juara Umum PORSENI MA Tingkat Kab.Tasikmalaya 2010, dan Juara 1 Karate Pekan Olahraga Kab.Tasikmalaya 2011. (YD)